Suatu Ketika : Sayembara

Suatu ketika di dunia satwa digegerkan oleh sekelompok manusia. Sekelompok manusia itu  membuat sebuah sayembara untuk memberikan predikat “Luar Biasa” pada semua hewan dengan ketentuan. “Siapapun hewan yang dapat melewati sebuah tali yang terbentang diantara dua bukit, maka hewan itu dikategorikan sebagai hewan Luar Biasa.”

Setelah pengumuman tersebut, Manusia yang menyelenggarakan sayembara tersebut membentangkan sebuah tali yang sangat panjang diantara dua buah bukit, diantara dua buah bukit itu ada sebuah danau yang  airnya.

Beberapa waktu kemudian, para hewan berbondong-bondong mendaftarkan diri mengikuti sayembara tersebut. Setelah pendaftaran selesai, semua hewan berbaris di belakang garis start, dan bersiap dengan percaya diri.

Sebelum dimulai, Manusia sebagai penyelenggara memberikan syarat terakhir untuk mencapai tali tersebut. “Peraturan dalam sayembara ini hanya satu, setiap hewan harus bisa berlari diatas tanah dan mencapai garis itu dengan kakinya” tegas manusia tersebut.

Sontak para ikan loncat-loncat kesal dan berteriak dengan sumpah serapahnya. Beda rupa sama nasib pun dialami oleh hewan lainnya. Mendengar riuhnya suasana membuat beberapa hewan kebingungan. Misalnya sekelompok Anjing dan babi yang kebingungan karena nama mereka disebut-sebut oleh hewan lain dengan nada kesal ke arah manusia.

“Peraturan macam apa itu ?! Apa manusia pernah melihat seekor ikan memiliki kaki ?!” Ungkap kesal si ikan. “Padahal dengan sayapku ini, aku yakin lebih cepat sampai ke garis itu” ucap elang diikuti raut wajah yang mendadak lesu.

Suatu Ketika : Sayembara

Meski penuh gaduh ketidaksetujuan dari peserta, sayembara itu tetap dilanjutkan tanpa merubah ketentuan yg ada, alhasil sebagian hewan bisa berlari dengan cepatnya dan beberapa hewan lainya nampak kepayahan.

Ikan yang sebelumnya berpikir akan mencapai finish melalui danau dengan berenang sekencang-kencangnya harus rela berjuang lebih keras dengan loncat-loncat tanpa arah diatas tanah berharap dapat mencapai garis finish.

Hal serupa juga dialami oleh Burung Elang, tatap matanya yang tajam mendadak membulat konyol oleh tingkanya sendiri “Oh Tuhan aku nampak dibuat bodoh sekali oleh peraturan itu… Seharunya aku terbang gagah diangkasa untuk mencapai finish, ini kenapa pula aku harus seperti pinguin berlari-lari tak jelas…” Gerutu Elang memaki dirinya sendiri.

Sayembara tersebut pun berjalan dengan penuh kekonyolan, Manusia yang duduk hanya mampu bergelak tawa melihat semuanya, bahkan beberapa manusia meneriaki bodoh beberapa hewan yang tidak bisa berlari. Dan akhirnya dalam sayembara tersebut semua riuh dan sibuk dengan kebodohanya masing-masing.

by. Setianggawan

error: Content is protected !!